ANALYSIS OF ECONOMIC POTENTIALS, TRANSFORMATION OF SHIFTING STRUCTURES AND ECONOMIC SPECIALIZATION: POST TERRITORIAL SPLIT IN ACEH

Main Article Content

Mizaj Iskandar
Febri Nurrahmi

Keywords

state defense, resilience of marine areas, traditional fishermen, partial least square, territorial split, aceh

Abstract

Purpose of the study:This study aims to determine the potential for economic growth of the parent and split regions after the implementation of the territorial split policy. It specifically looks at the economic position of parent and new regions in the Aceh province, identifies the superior sectors, the structure of regional economies, and interregional differences in economic performance in Aceh after the territorial splits.


Methodology:This study used secondary data from BPS Aceh which will be further analyzed using the Klassen Typology, Location Quotient (LQ) and Shift Share (SS).


Main Findings:Klassen typology analysis shows that there are three districts in the fast-progressing and fast-growing category, Central Aceh, West Aceh, and Nagan Raya. Nagan Raya is the only newly established district, formerly part of West Aceh. All parent and new regions have superior sector which should be put into priority by their regents/mayors. According to the findings, it can be concluded that the parent and split regions have financially benefited from the territorial split.


Applications of this study:This study provide information to government stakeholders in Aceh and Indonesia in developing their annual state budget and development plan.


Novelty:Aceh is one of the provinces in Indonesia who has many split regions. However, there are no studies examining the economic development of the split regions. This topic is very significant to be further studied in order to evaluate the effectiveness of the territorial split policy in Indonesia.

Downloads

Download data is not yet available.
Abstract 124 | PDF Downloads 68

References

1. Adisasmitra, R. (2005). Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah. Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu Yogyakarta.
2. Argama, R. (2005). Pemberlakuan Otonomi Daerah dan Fenomena Pemekaran Wilayah di Indonesia. Jakarta.
3. Arsyad, L. (2005). Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah, Edisi Kedua. Yogyakarta: BPFE.
4. Aswandi, H., & Kuncoro, M. (2000). Evaluasi Penetapan Kawasan Andalan: Studi Empiris di Kalimantan Selatan 1993-1999.Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Indonesia, 17(1), 27–45.
5. Azhar, Fuaidah, S. L., & Abdussamad, M. N. (2002). Analisis Sektor Basis dan Non Basis di Provinsi Naggroe Aceh Darussalam (NAD). Jurnal Penelitian Fakultas Pertanian Unsyiah.
6. Bappenas, & UNDP. (2014). Studi Evaluasi Dampak Pemekaran Daerah 2009-2013. Bridge: Jakarta. Jakarta: Bridge.
7. Baransano, M. A., Putri, E. I. K., Achzani, N. A., & Kolopaking, L. (2016). Peranan Sektor Unggulan sebagai Salah Satu Faktor dalam Mengurangi Ketimpangan Pembangunan Wilayah di Provinsi Papua Barat. Jurnal Perencanaan Wilayah Dan Kota.
8. Bendavid-Val, A. (1991). Regional and Local Economic Analysis for Practitioners, 4th Edition. New York: Praeger Publisher.
9. Blakely, E. J., & Bradshaw, T. K. (2002). Planning Local Economic Development Theory and Practic, 3rd Edition. New York: Sage Publications.
10. BPS Aceh. (2016). PDRB Menurut Lapangan Usaha di Naggroe Aceh Darussalam 2013-2017.
11. Chalid, P. (2005). Otonomi Daerah: Masalah, Pemberdayaan dan Konflik, Edisi Pertama. Jakarta: Kemitraan.
12. Cooper, Donald, R., & Emory, W. (1998). Metode Penelitian Bisnis, Edisi Kelima, Jilid I. Jakarta: Erlangga.
13. Dawood, T. C. (2007). Pemekaran Daerah dan Dampaknya Terhadap Alokasi Anggaran Untuk Pelayanan Publik. Banda Aceh.
14. Jhingan, M. L. (2007). Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Edisi Keenambelas. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa.
15. Kuncoro, M. (2004). Otonomi dan Pembangunan Daerah Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang. Jakarta: Erlangga.
16. Mardiasmo. (2004). Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Edisi Kedua. Yogyakarta: Andi Offset.
17. McCann, P. (2003). Urban and Regional Economics. New York: Oxford University Press.
18. Nachrowi, D. Nachrowi, & Usman, H. (2002). Penggunaan Teknik Ekonometri, Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
19. Pratikno. (2008). Usulan Perubahan Kebiajakan Penataaan Daerah : Pemekaran dan Penggabungan Daerah.
20. Rochmi, M. N. (2016). Pemerintah moratorium pemekaran daerah baru. Retrieved from https://beritagar.id/artikel/berita/pemerintah-moratorium-pemekaran-daerah-baru
21. Sjafrizal. (1997). Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Regional Wilayah Indonesia Bagian Barat. Prisma, 3, 27–38.
22. Sjafrizal. (2008). Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi, Edisi Pertama. Padang: Beduose Media.
23. Sukirno, S. (2006). Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan Dasar Kebijakan, Edisi Kedua. Jakarta: Kencana.
24. Sumodiningrat, G. (2002). Ekonometrika Pengantar, Edisi 2003/2004. Yogyakarta: Yogyakarta.
25. Syahnur, S. (2003). Analisis Shift-Share Perekonomian Provinsi Naggroe Aceh Darussalam Periode 1969-2001. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 2(2), 295–318.
26. Syarifudin, L. (2003). Studi Pemilihan Subsektor Jasa Unggulan dalam Rangka Mendukung Kota Bandung Sebagai Kota Jasa. Infomatek, 5(3).
27. Tarigan, R. (2006). Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi, Edisi Revisi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
28. Van Den Berg, H. (2005). Economic Growth and Development, International Edition. New York: McGraw-Hill Publishe.
29. Widodo, T. (2006). Perencanaan Pembangunan: Aplikasi Komputer (Era Otonomi Daerah). Yogyakarta: UPP STIM YKPN.